Fellowship

UFP 3 – Sebuah Tantangan Memperkuat Identitas Kota

Integrated Tropical City; Core dari Kota-Kota Masa Depan Indonesia

Lukluk Zuraida Jamal
Universitas Diponegoro, Semarang
2009

Masa depan (future) dikutip dari http://en.wikipedia.org/wiki/Future adalah periode waktu yang secara umum dimaknai dimana segala hal belum terjadi. “Masa depan” merupakan lawan dari “masa lampau”, dan merupakan periode waktu setelah apa yang kita sebut dengan “sekarang”. Dikutip dari sumber yang sama, terdapat sebuah teori dalam filosofi waktu yang disebut dengan “Teori Waktu Blok Pertumbuhan” (The ‘Growing Block’ Theory Of Time), dimana teori tersebut menyebutkan bahwa masa lampau dan sekarang adalah ada dan masa depan adalah belum ada. Masa depan yang benar-benar ada adalah sesuatu yang ditafsirkan sebagai sesuatu yang dikonstruksi secara logis, dikonstruksi melalui sebuah rencana dalam proses perencanaan (planning) menuju sebuah goal, dimana rencana tersebut bermula,berproses dan berakhir pada goal tersebut. Yang kemudian akan bersiap menuju goal lainnya lagi,bermula lagi,berproses lagi dan berakhir lagi, itulah yang disebut The Cycle of Times. Sangat menarik jika kita membicarakan mengenai masa depan, masa depan kita,keluarga,karier,kehidupan,dan lain sebagainya. Masa depan adalah sesuatu yang bebas untuk diimajinasikan akan bermula seperti apa,berproses dengan cara apa, dan akan berakhir dengan hasil apa.
Masa depan juga dimiliki oleh sebuah kota, definisi klasik kota menurut Amos Rapoport adalah suatu permukiman yang relatif besar, padat dan permanen, terdiri dari kelompok individu-individu yang heterogen dari segi sosial. Abad ini merupakan abad kota, kini orang dominan untuk memilih tinggal dikota. Seperti yang dikutip dari “Urban Utopia” artikel yang ditulis oleh Madhavi Tumkur seorang Design and Architecture Researcher dari Singapura dalam Futurarc Magazine vol.14, 2009. Disampaikan didalamnya bahwa menurut riset dari MIT School of Architecture and Planning, kota berhias hanya 2% dari massa yang ada dibumi, mengakomodasi 50% dari populasi dunia yang mengkonsumsi 75% dari sumber yang ada.
Kota yang kita tinggali adalah refleksi dari gaya hidup kita yang berlebihan dan tidak stabil. Dibiasakan dengan keserbaadaan dan konsumsi berlebih mengantar kepada permasalahan lingkungan. Dikutip dari sumber yang sama, diperhitungkan pada tahun 2050 hampir 70% dari populasi dunia akan bertempat tinggal di kota dibandingkan pada kurun waktu 70-80 tahun belakangan ini yaitu sebesar 20%. Melihat perkembangan angka ini mengisyaratkan kita, terdapat sebuah kebutuhan yang mendesak bagi kita untuk mengembangkan dan menumbuhkan kota dalam cara yang berkelanjutan. Sekarang atau tidak sama sekali kita membutuhkan sebuah kepemimpinan dan strategi yang akan mengantarkan kita lebih kepada masa depan yang berkelanjutan.
Berdasarkan data dari situs web Departemen Dalam negeri Republik Indonesia Per Desember 2004, jumlah kota yang ada di Indonesia adalah sebanyak 91 kota, 349 kabupaten administrasi yang siap berkembang menjadi kota, maka terdapat 440 potensi kota di Indonesia nantinya. Kota – kota di Indonesia adalah terletak pada sebuah negara yang dilintasi oleh garis khatulistiwa, kondisi ini membuat Indonesia menjadi beriklim tropis dengan pergantian dua musim yaitu musim penghujan dan kemarau. Intensitas hujan yang cukup tinggi membuat Indonesia secara spesifik masuk sebagai negara beriklim tropis basah.
Bagi sebagain besar orang di benua lain kondisi ini bukanlah suatu kondisi yang menguntungkan untuk tinggal. Kombinasi faktor iklim pada iklim tropis basah dianggap sebagai kombinasi optimal bagi berlangsungnya kehidupan flora dan fauna di muka bumi ini. Namun dianggap kurang sesuai bagi manusia, karena kombinasi faktor iklim serta berkembangnya berbagai serangga dan hewan buas dalam banyak hal dapat mengganggu kelangsungan hidup manusia. Pergantian musim yang memungkinkan terjadinya kemarau panjang dan hujan lebat dinilai mempersulit bagi aktivits manusia. Namun jika dilihat dari sudut pandang energi, pada taraf dasar, tanpa energy listrik untuk pemanas maupun pendingin ruangan dan lampu untuk penerangan siang hari, manusia pada iklim tropis akan tetap dapat bertahan hidup dibanding manusia yang ada di bagian benua lainnya, missal Amerika dengan iklim sub tropisnya. Singkat cerita ketergantungan manusia pada iklim tropis terhadap energi relative lebih rendah daripada manusia di iklim subtropis misalnya.
Namun pertukaran budaya, berkembangnya teknologi informasi dari negara-negara maju membuat konsumsi terhadap energi pada negara berkembang cenderung meningkat secara sadar-tidak sadar,terpaksa-tidak terpaksa. Hal ini juga berimpas pada penataan kota kita, mengimplikasi konsep arsitektur negara-negara maju yang secara termis tidak sesuai dengan kondisi lingkungan di Indonesia. Terjadinya fenomena kota “Urban Heat Island”, dimana seolah-olah kota menjadi sebuah pulau yang memancarkan panas diantara kawasan rural disekitarnya yang hijau. Permukaan keras dari beton-beton bangunan dengan hanya menyisakan sedikit lahan hijau cenderung akan menyerap panas lebih banyak, yang pada saatnya akan dipantulkan kembali. Kawasan kota dicirikan dengan kerapatan bangunan yang tinggi, sempitnya ruang terbuka, kecepatan angin dalam kota berkurang membuat pergerakan udara kecil terjadi.
Penempatan fasilitas pemenuhan kebutuhan dan beraktivitas dirancang dan ditempatkan secara kurang kompak, sehingga manusia menjadi malas berjalan menuju tempat yang dituju baik karena jauh, panas, takut kehujanan, atau memang karena perkembangan membentuk jiwa yang seperti itu. Dari fenomena-fenomena tersebut, ketergantungan manusia yang tinggal di kota terhadap penggunaan energi menjadi tinggi. Hal ini hanya mungkin diatasi jika perancang kota memahami strategi perancangan kota tropis dan mengaplikasikan rancangannya sesuai dengan persoalan yang ditimbulkan oleh iklim tersebut.
Kota tropis (Tropical City), merupakan hal yang sudah sering oleh kita dengar. Merupakan sebuah konsep perancangan kota – kota di daerah tropis seperti Indonesia. Sayangnya konsep ini hampir dilupakan dan dinilai tidak modern, tertelan tren konsep kota global seperti eco-city,green city, dan lain sebagainya.
Rasanya konsep inilah yang paling logis bagi kota-kota di Indonesia. Alasan mendasar adalah terletak pada dimana kota tersebut berlokasi, karen a terletak di daerah tropis tentunya konsep kota yang cocok adalah sebuah konsep kota yang mengakomodasi menjadi Kota Tropis. Entah nantinya akan dikembangkan menjadi Economic Base, Industrial Base, Tourist Base maupun Education Base, semuanya akan kembali pada core Kota Tropis sebagai konsep dasar kota-kota di Indonesia.
Perencanaan dan Perancangan kota tropis meminta perhatian khusus pada aspek iklim, seperti perlindungan terhadap cuaca. Pedestrin memungkinkan untuk dibuat menjadi koridor yang tertutup atasnya sehingga terlindung dari panas dan hujan sehingga aktivitas manusia tidak terhambat karena cuaca. Antara satu bangunan dan bangunan lainnya terhubung dengan baik dengan tetap menyisakan open space diantaranya. Penghutanan kota dengan memperbanyak vegetasi yang ada sebagai usaha untuk mengurangi ‘Urban Heat Island’ , memperbaiki kondisi keairan kota, dan sebagai terapi visual yang baik. Penataan massa bangunan dengan mengoptimalkan aliran udara disekitar bangunan sehingga memungkinkan ventilasi silang terjadi.
Seperti yang dikutip dari jurnal “Wujud Kota Tropis Di Indonesia: Suatu Pendekatan Iklim, Lingkungan Dan Energi” milik Tri Harso Karyono, konsep Kantung Pedestrian (Pedestrian Pockets) yang ditawarkan oleh Dough Kelnaugh dn Peter Calthorpe, bisa dipertimbangkan bagi perancangan kota tropis Indonesia. Konsep ini mengakomodasi dalam setiap kantung pedestrian yang luasnya sekitar 40 hektar dapat ditampung penduduk sejumlah 5000 orang serta pekerja berjumlah 3000 orang. Kantung – kantung pedestrian memiliki stasiun kereta atau tram yang dihubungkan satu dengan lainnya menuju pusat kota yang sudah ada. Dalam setiap kantung pedestrian juga tersedia fasilitas permukiman, pertokoan, dan fasilitas penunjang lainnya yang dibuat secara kompak. Penduduk diharapkan dapat menempuh tempat dimanapun dalam kantung tersebut dengan berjalan kaki.
Tidak dapat dipungkiri dalam usaha mengemas kotanya atau para pemimpin pasar sering menyebut dengan mem-branding kotanya agar mampu memberi prospek ekonomi. Kota diharapkan juga dapat memoles perfoorma dirinya. Inilah yang menjadi tantangan bagi semua perkembangan kota di dunia yaitu mengenai mengatur keseimbangan antara pencapaian atas kemakmuran ekonomi dan keberlanjutan lingkungan. Sebuah harapan mulia yang berusaha diselaraskan antara performa dan lingkungan, salah satunya berujung pada suatu desain kota yang terintegrasi.,

Intergrated Design.
Desain teritegritas dilambangkan sebagai rute tercepat menuju sebuah bangunan modern berekologi baik di Eropa, Amerika, dan Asia. Desain ini menjanjikan pencapaian untuk mengurangi sisa dan kerusakan konstruksi dan menambah performa desain secara significant. Proses dari desain terintegritas cenderung menjadi inclusive, collaborative, terstruktur dengan baik dan utuh; memungkinkan bahwa rancangan paling efisien ditemukan sebelum pekerjaan dimulai pada gambar kerja terperici. (Integrated Design Approach, Thor Kerr, Futuracc Magazine vol.8, 2008)
Dalam lingkup arsitektur, desain yang terintegritas meminta team perencana dan perancang untuk berfikir mengenai elemen desain seperti energi,keberlanjutan, interior, fasade, lanskap, MEE, struktur dan konstruksi, manajemen proyek, budget, pelaksanaa diposisikan dan dipikirkan awal pada setiap proses. Semua elemen desain dikaji dan disimulasikan pada proses konsep, dari poin konsep kembali dikaji dan disimulasikan pada proses desain bentuk dan zoning, begitupula seterusnya menuju layout dan fasade hingga pada pelaksanaan.
Moe dalam bukunya “Integrated Design In Contemporary Architecture” mengemukakan bahwa desain yang terintegrasi bukanlah desain yang selalu mengakomodasi budget yang besar, budget yang kecil dan limit pun mampu mengaksesibel desain terintegrasi. Desain terintegrasi merupakan desain yang dinilai mampu meminimal akibat buruk bagi lingkungan, namun tetap dapat memuaskan permintaan atas performa bagi prospek kota di masa depan. Namun sekali lagi, lokalitas, keunikan kota harus mampu diangkat tinggi-tinggi. Diferensiasi arsitektur setiap daerah dan kota akan memberi rasa tersendiri bagi kota tersebut. Buatlah kota anda memiliki lokalitas rasanya tersendiri, rasa Integrated Tropical City yang berbeda dari kota lainnya.
Karena dirancang dengan unsur lokalitas merajuk pada Integrated Tropical City, apakah kota ini nantinya mampu dihuni oleh berbagai macam orang?
Hal ini akan menjawab terhadap tantangan dari kota masa depan yaitu kota yang mampu ditinggali oleh banyak orang. Kota yang meletakkan harapannya agar mampu mengakomodasi kenyamanan dan mampu menjaga keseimbangan kotanya apabila didesign secara secara intens melalui penataan kota dan arsitekturnya dan dengan regulasi pada dasarnya mampu membangun keanekaragaman meskipun meletakkan dirinya dalam usaha penghematan energi.

Dr.Paul F Downtown, director dari Ecopolis Architects Pty Ltd serta penulis dari “Ecopolis Architecture and Cities for a Changing Climate” mempercayai bahwa; “Kita harus membuat sebuah kota ekologi yang berkelanjutan, kota yang bekerja untuk menjaga keberlanjutan ekosistem dimana merupakan usaha bagi manusia untuk bertahan hidup diandalkan”. Dalam logika pemikirannya dan harapan, jika ada saja satu buah kota di Indonesia dikembangkan menjadi Integrated Tropical City secara intens dan serius sehingga mampu memenuhi kaidah – kaidah standart yang setidaknya harus dimiliki kota tropis maka untuk kedepannya, prinsip dari konsep dari perencana, perancangan dan pembangunan kota itu akan menjadi standart kurang dan lebih untuk perancangan kota di Indonesia. Hal itu dapat terjadi meskipun model kota contoh tidak dapat direplika seluruhnya mengingat setiap kota memiliki kekhasan tersendiri. Dia tidak perlu mencotek keseluruhan namun conteklah dan sesuaikan dengan keunikan dari kota. Jakarta adalah Jakarta, Bandung adalah Bandung, Semarang adalah Semarang. Bukan Medan adalah Jakarta, apalagi Bandung bukanlah Singapura.
Sejauh ini memang apa yang tertera dalam program jangka panjang dan jangka pendek pada Panduan Pengembangan Kabupaten Dan Kota yang diterbitkan PU adalah menfokuskan pada perbaikan dan peningkatan terhadap apa yang ada. Suatu konsep dasar seperti Integrated Tropical City ini memang belum bisa disebutkan secara gamblang, namun jika kita mampu memiliki konsep pengembangan kota yang terdekat dan menjanjikan sebagai pijakan dalam Architecture, Urban Planning, dan Urban Design maka bukan hal yang tidak mungkin kedepannya kota-kota di Indonesia dapat disejajarkan dengan kota-kota berkonsep lainnya seperti Abu Dhabi dengan konsep Urban Utopia-nya, atau Tianjin China dengan Eco-city. Suatu kebanggaan tersendiri bagi Indonesia jika mampu memiliki konsep kotanya tersendiri, menyandang identitas sebagai Integrated Tropical City nantinya. Sebuah proses mewujudkan branding dan identitas yang akan berjalan cukup panjang dan harus dilaksanakan secara intens jika benar-benar ingin konsep identitas tersebut terwujud dan memberi manfaat sehingga kota kita dapat bertahan nantinya.

REFERENCES
Darmawan, Edy. 2009. Ruang Publik Dalam Arsitektur Kota. Semarang; Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
Downton, Paul F. 2009. Ecopolis Architecture and Cities for a Changing Climate. CSIRO Publishing.
Farr. Douglas. 2007. Sustainable Urbanism – Urban Design With Nature. New Jersey; John Wiley & Sons, Inc.
Lippsmeier , George . 1997 . Bangunan Tropis . Jakarta : Erlangga
Mangunwijaya , Y.B. 1995. Wastu Citra. Jakarta : PT.Gramedia Pustaka Utama
Mangunwijaya , Y.B. 1997. Pengantar Fisika Bangunan – cetakan ke 5. Jakarta : Djambatan
Moe, Kiel. 2008. Integrated Design In Contemporry Architecture . Princeton Architectural Press
Ratihsari , Suzanna dkk . 2005. Arsitektur Tropis Indonesia . Semarang : Badan Penerbit UNDIP.
Karyono, Tri Harso. Jurnal “Wujud Kota Tropis Di Indonesia: Suatu Pendekatan Iklim, Lingkungan Dan Energi”. http://puslit.petra.ac.id/journals/architecture/. 2009
Kusumawijaya, Marco. Jurnal “Kota dan Perubahan Lingkungan: Sketsa Menuju Keberlanjutan”. Disampaikan dalam lokakarya Perubahan Lingkungan dalam Prespektif Sejarah, Direktorat Geografi Sejarah, Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata di Yogyakarta, 20-21 Desember 2006.
http://en.wikipedia.org/wiki/Future, tentang pengertian dari Future, 21 Desember 2009
http://id.wikipedia.org/wiki/Jumlah_wilayah_administratif_di_Indonesia, tentang jumlah kota di Indonesia, 21 Desember 2009
http://www.iap.or.id/detail_artikel.asp?id=26, tentang Citizen and Character, 2o Desember 2009
Departemen Pekerjaan Umum. Panduan Pengembangan Kabupaten Dan Kota th.2007.

1 2 3 4 5